Model inkremental merupakan
salah satu pendekatan paling berpengaruh sekaligus paling realistis dalam
menjelaskan bagaimana kebijakan pemerintah sesungguhnya dirumuskan. Jika model
rasional memandang proses kebijakan sebagai proses sistematis, komprehensif,
dan berbasis kalkulasi ilmiah, maka model inkremental justru lahir dari kritik
terhadap asumsi ideal tersebut. Model inkremental berkembang dari realitas
bahwa pemerintah sering kali tidak memiliki cukup waktu, informasi, sumber
daya, maupun kapasitas teknis untuk menyusun kebijakan secara sempurna. Dalam
praktiknya, kebijakan publik lebih sering disusun melalui penyesuaian kecil
terhadap kebijakan sebelumnya, dilakukan secara bertahap, pragmatis, dan
menyesuaikan kondisi lapangan.
Dalam konteks kontemporer, terutama pada masa krisis seperti pandemi Covid-19, pendekatan inkremental justru menjadi model yang paling dominan digunakan pemerintah. Bahkan perkembangan terbaru menunjukkan munculnya praktik yang lebih kompleks, yaitu apa yang dapat disebut sebagai adjusted incremental plagiarism, sebuah model formulasi kebijakan yang mengadopsi kebijakan sebelumnya, menyalin sebagian substansi, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan lokal dan situasi krisis yang berkembang.
Awal Kemunculan Model Inkremental
Akar pemikiran inkrementalisme dapat ditelusuri
dari karya Charles E. Lindblom melalui artikel terkenalnya The Science
of Muddling Through tahun 1959. Lindblom mengkritik model
rasional-komprehensif yang menganggap pembuat kebijakan mampu menganalisis
seluruh alternatif kebijakan secara menyeluruh sebelum mengambil
keputusan. Menurut Lindblom, asumsi tersebut tidak realistis. Dalam
kenyataan birokrasi dan politik, pembuat kebijakan bekerja dalam kondisi
keterbatasan informasi, tekanan politik, konflik kepentingan, dan keterbatasan
waktu. Oleh karena itu, kebijakan publik biasanya tidak dibuat melalui
perubahan besar, melainkan melalui perubahan kecil dan bertahap dari kebijakan
yang telah ada sebelumnya.
Pemikiran Lindblom kemudian diformalkan oleh Braybrooke dan Lindblom (1963) melalui konsep disjointed incrementalism, lalu dikembangkan lebih lanjut dalam karya The Intelligence of Democracy: Decision Making Through Mutual Adjustment (1965). Pendekatan ini menekankan bahwa kebijakan publik merupakan hasil kompromi, penyesuaian bertahap, dan proses “tambal sulam” (patchwork policy). Dalam pandangan ini, rasionalitas manusia bersifat terbatas (bounded rationality), sebagaimana sebelumnya juga dijelaskan oleh Herbert A. Simon. Simon menegaskan bahwa pengambil keputusan tidak mungkin memiliki seluruh informasi untuk menghasilkan keputusan yang sepenuhnya rasional. Karena itu, mereka hanya mencari keputusan yang “cukup memuaskan” (satisficing), bukan keputusan terbaik secara absolut.
Kritik terhadap Model Rasional
Model inkremental pada dasarnya merupakan kritik
terhadap dominasi pendekatan rasional dalam kebijakan publik. Model rasional
mengandaikan bahwa pemerintah mampu:
1. Mengidentifikasi
seluruh masalah secara lengkap
2. Menentukan
seluruh alternatif solusi
3. Menghitung
seluruh konsekuensi kebijakan
4. Memilih
alternatif terbaik secara objektif
Namun menurut Lindblom, proses tersebut hampir
mustahil dilakukan dalam dunia nyata. Kebijakan publik justru lahir dari
kompromi politik, tekanan birokrasi, keterbatasan data, serta kondisi
lingkungan yang berubah cepat. Pandangan ini kemudian diperkuat oleh beberapa
ilmuwan kebijakan lain seperti David Easton yang melihat kebijakan sebagai
hasil interaksi sistem politik dengan lingkungannya, serta Harold D. Lasswell
yang menempatkan kebijakan sebagai proses multidisipliner dan problem-oriented.
Di sisi lain, kritik terhadap model siklus kebijakan (policy cycle) juga berkembang. Lindblom dan Woodhouse menilai bahwa kebijakan publik tidak berjalan secara linear dan sistematis sebagaimana digambarkan dalam tahapan agenda setting, formulation, implementation, dan evaluation. Kebijakan lebih sering berlangsung secara kompleks, tidak beraturan, dan saling bertumpuk.
Perkembangan Model Inkremental
Seiring perkembangan studi kebijakan publik, model
inkremental mengalami berbagai pengembangan teoritis.
1. Disjointed Incrementalism
Model ini menggambarkan formulasi kebijakan sebagai proses perubahan
yang terputus-putus (disjointed). Analisis kebijakan dilakukan secara parsial,
tidak sepenuhnya terkoordinasi, dan lebih berfokus pada perbaikan kebijakan
yang telah ada dibandingkan menciptakan kebijakan baru secara radikal.
Pendekatan ini sangat cocok digunakan dalam situasi penuh ketidakpastian karena
memungkinkan pemerintah bertindak cepat tanpa harus menunggu analisis yang
terlalu panjang.
2. Logical Incrementalism
Konsep ini diperkenalkan oleh James Brian Quinn melalui penelitian pada sektor bisnis tahun 1980. Berbeda dengan Lindblom yang lebih menekankan keterbatasan rasionalitas, Quinn melihat inkrementalisme sebagai proses strategis yang tetap memiliki visi jangka panjang. Menurut Quinn, organisasi besar sering bergerak secara bertahap namun tetap diarahkan oleh tujuan strategis tertentu. Kebijakan tidak dibuat sekaligus, melainkan berkembang melalui langkah-langkah kecil yang terus disempurnakan seiring perubahan lingkungan. Jika disjointed incrementalism cenderung reaktif, maka logical incrementalism lebih proaktif dan terencana.
Inkremental dalam Situasi Krisis
Perkembangan paling menarik dari teori inkremental
terjadi ketika model ini diterapkan dalam situasi krisis. Pandemi Covid-19
menunjukkan bahwa pemerintah di berbagai negara dipaksa menyusun kebijakan
secara cepat dalam kondisi penuh ketidakpastian. Krisis multidimensi
menyebabkan pemerintah tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan formulasi
kebijakan secara ideal. Akibatnya, kebijakan disusun dengan mengadopsi aturan
sebelumnya, mengikuti kebijakan pemerintah pusat, atau bahkan menyalin
kebijakan daerah lain yang dianggap berhasil.
Dalam penelitian mengenai formulasi kebijakan penanganan pandemi di Kota Malang ditemukan bahwa proses formulasi kebijakan dilakukan dengan cara mengadopsi, menyesuaikan, dan memodifikasi kebijakan yang telah ada sebelumnya. Situasi krisis, tekanan pimpinan, keterbatasan waktu, dan lemahnya kapasitas teknis birokrasi menjadi faktor utama munculnya pola tersebut. Fenomena ini kemudian melahirkan konsep crisis-driven incremental policy, yaitu kebijakan inkremental yang didorong oleh situasi krisis. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah lebih mengutamakan kecepatan respons dibandingkan prosedur formulasi kebijakan yang ideal.
Munculnya Konsep Adjusted Incremental Plagiarism
Perkembangan terbaru dalam studi inkrementalisme adalah munculnya model adjusted incremental plagiarism. Konsep ini berangkat dari temuan empiris bahwa dalam situasi darurat, pemerintah tidak hanya melakukan inkrementalisme biasa, tetapi juga melakukan proses adopsi kebijakan melalui penyalinan substansi kebijakan lain yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Dalam penelitian disertasi tentang formulasi kebijakan pandemi di daerah Jawa Timur ditemukan bahwa proses penyusunan kebijakan dilakukan dengan mengambil kebijakan yang telah ada, memilah substansi tertentu, menyesuaikan konteks lokal, lalu merumuskan kembali menjadi kebijakan baru.
Model ini disebut adjusted incremental plagiarism karena memiliki beberapa karakteristik:
- Mengadopsi
kebijakan yang telah ada
- Menyalin
sebagian substansi kebijakan lain
- Melakukan
penyesuaian seperlunya
- Dilakukan
dalam situasi krisis dan keterbatasan waktu
- Bertujuan
menghasilkan respons kebijakan secara cepat
Secara teoritis, model ini berbeda dengan plagiarisme murni. Dalam adjusted incremental plagiarism, proses adopsi dilakukan bukan semata-mata untuk meniru, tetapi untuk mempercepat respons kebijakan dalam kondisi darurat ketika pemerintah tidak memiliki cukup waktu dan sumber daya untuk menyusun kebijakan sepenuhnya dari awal. Dalam konteks pandemi, model ini justru menunjukkan bagaimana birokrasi bekerja secara pragmatis untuk menjaga stabilitas sosial dan administratif.
Relevansi Model Inkremental Kontemporer
Model inkremental tetap relevan hingga saat ini
karena dunia kebijakan publik semakin kompleks dan dinamis. Krisis kesehatan,
perubahan iklim, disrupsi teknologi, dan ketidakstabilan ekonomi membuat
pemerintah sulit bekerja dengan model rasional yang terlalu ideal. Dalam
konteks tersebut, inkrementalisme menjadi pendekatan realistis karena
memungkinkan pemerintah:
1. Bergerak
cepat
2. Menyesuaikan
kebijakan secara fleksibel
3. Mengurangi
risiko kegagalan kebijakan besar
4. Beradaptasi
terhadap perubahan lingkungan.
Namun demikian, tantangan terbesar model inkremental adalah kecenderungannya menghasilkan kebijakan yang bersifat jangka pendek, reaktif, dan kurang inovatif.
Kesimpulan
Perjalanan model inkremental menunjukkan bahwa
kebijakan publik tidak selalu lahir dari proses rasional yang sempurna. Sejak
diperkenalkan oleh Lindblom melalui konsep muddling through, inkrementalisme
berkembang menjadi pendekatan penting dalam memahami realitas formulasi kebijakan
modern.
Perkembangannya melahirkan berbagai varian seperti disjointed
incrementalism, logical incrementalism, hingga crisis-driven incremental policy.
Dalam konteks kontemporer, terutama pada masa pandemi, muncul fenomena baru
berupa adjusted incremental plagiarism, yaitu formulasi kebijakan melalui
adopsi dan penyesuaian kebijakan yang telah ada sebelumnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam situasi krisis, kecepatan dan kemampuan adaptasi sering kali lebih penting dibandingkan kesempurnaan prosedural. Dengan demikian, model inkremental bukan sekadar model “tambal sulam”, melainkan refleksi realistis tentang bagaimana kebijakan publik benar-benar bekerja di tengah kompleksitas dunia modern.
Referensi:
Anderson,
J. E. (1979). Public policy making (2nd ed.). Holt, Rinehart
and Winston.
Dunn,
W. N. (2003). Pengantar analisis kebijakan publik (2nd ed.).
Gadjah Mada University Press.
Easton,
D. (1965). A systems analysis of political life. Wiley.
Jordan,
A., & Turnpenny, J. (2015). The tools of policy formulation:
Actors, capacities, venues and effects. Edward Elgar Publishing.
Lindblom,
C. E. (1959). The science of “muddling through.” Public Administration Review,
19(2), 79–88.
Lindblom,
C. E. (1965). The intelligence of democracy: Decision making through
mutual adjustment. Free Press.
Lindblom,
C. E., & Woodhouse, E. J. (1993). The policy-making process (3rd
ed.). Prentice Hall.
Rajagopalan,
N., & Rasheed, A. M. A. (1995). Incremental models of decision
making. Management Decision, 33(10), 80–87.
Setyawan,
D., Sumartono, Muluk, M. R. K., Amin, F., & Rohman, A. (2024). Disjointed
incremental and logical incremental policy formulation in managing the pandemic. International
Journal of Religion, 5(11), 8802–8810. https://doi.org/10.61707/zze2cw86
Setyawan,
D., Sumartono, Muluk, M. R. K., & Amin, F. (2024). The model of incremental
public policy development formulation: Experimentalist governance
approach. Journal of Public Administration Studies, 9(1), 10–18.
Simon,
H. A. (1957). Administrative behavior: A study of decision-making
processes in administrative organizations (2nd ed.). Macmillan.











